Saturday, October 4, 2008

Tetralogi Laskar Pelangi by Andrea Hirata

Tetralogi Laskar Pelangi adalah The successful out of the blue. Buku ini adalah terobosan baru dalam sastra indonesia, apalagi karena buku ini adalah satu dari sedikit buku yang berhasil di pasaran tanpa mengatasnamakan cinta dan accessible untuk segala umur. Kekuatan tetralogi Laskar Pelangi adalah bukan dibukunya itu sendiri, tetapi di pesan moral yang dibawa, tentang betapa pentingnya pendidikan. Buku pertama, kedua dan ketiga telah terbit, dan berkisah seputar Ikal, seorang anak dari Belitong, dan segala obsesinya di dunia pendidikan. Kehidupan Ikal semakin seru dengan hadirnya tokoh-tokoh menarik dikehidupannya, yang secara tidak sadar telah membantu dia mewujudkan impiannya. Ketiga buku ini adalah seri petualangan yang dapat meninggalkan senyum kecil dan kelegaan hati.

Buku pertama, Laskar Pelangi, adalah buku yang paling menantang yang saya baca akhir-akhir ini. Kesan awal saya pada buku ini adalah terlalu deskriptif, bertele-tele dan repetitif. Sebagai pembaca, saya merasa tidak diajak masuk kedalam alur dan emosi cerita. Sampai tengah buku pun, saya merasa tidak mengenal beberapa karakter dengan dekat, yang menurut saya sangat disayangkan, padahal karakter-karakter itu adalah anggota Laskar Pelangi, yang seharusnya merupakan tokoh penting dalam cerita.Namun dibalik itu semua, membaca Laskar Pelangi adalah membaca dengan penuh kesederhanaan. Kesederhanaan itu didapat dari cerita yang dibawakan lewat kacamata dunia anak-anak, yang tidak mengenal intrik-intrik yang memusingkan. Ceritanya pun juga sederhana dan merupakan sebuah petualangan, walau sayang bahkan sampai hampir halaman terakhir buku ini, saya tidak melihat konflik nyata sehingga buku ini minim klimaks. Tapi mungkin, setelah saya pikir-pikir, mungkin memang begitu dunia anak-anak, konflik adalah rapot jelek dan hukuman membersihkan wc, sederhana. Setelah selesai membaca buku ini, yang membuat saya jatuh cinta adalah bukan karena karakternya, bukan karena cara penulisannya, dan bukan juga karena orang bilang buku ini bagus, tapi karena kesan yang saya dapat setelah saya membaca halaman terakhir dan menutup buku ini, rasa bersyukur telah mendapat pendidikan. Buku ini adalah sedikit buku yang berhasil membuat pembacanya melihat kebawah, ke realita hidup, hanya dari kesederhanaan dunia anak-anak sd. Buku ini telah membawa saya ke ingatan masa kecil, dimana saya tidak mau sekolah dan pura-pura sakit perut, dimana saya bolos sekolah untuk pacaran, dan bolos dikantin untuk makan bakso. Setelah dipikir-pikir dan setelah membaca buku ini, saya mungkin adalah satu dari banyak manusia yang tidak bersyukur untuk pendidikan yang saya dapatkan dengan mudah. Tapi saya tetap tersenyum, dan berterimakasih, karena saya juga adalah satu dari banyak orang yang bisa bersekolah tanpa harus berkorban banyak.

Buku kedua, Sang Pemimpi, berfokus pada mimpi, dan segala upaya untuk meraih itu. Berangkat dari satu mimpi untuk bersekolah di Paris, Andrea Hirata menyajikan cerita bagaimana dua pemuda berusaha mati-matian untuk tetap bersekolah. Buku kedua dibawakan dengan cara becerita yang lebih inviting dibandingkan dengan Laskar Pelangi. Ditambah dengan beberapa latar, Belitung, Bogor, Jakarta, ceritanya jadi serasa lebih beragam. Dari segi perasaan, kalau pernah nonton Sex and the City the Movie, Sang Pemimpi memberikan perasaan yang sama, naik turun, naik turun, naik turun.. sedih senang.. sedih senang.. sedih senang.. dan diakhir cerita hanya satu kata; Puas. Jujur, saya sangat menikmati buku kedua. Tetapi kesan yang paling dalam setelah selesai membaca buku ini adalah bahwa semua memang berawal dari sebuah mimpi, yang dulu sewaktu kecil kita kategorikan sebagai cita-cita. Ternyata, setelah direnungkan, memang hidup tanpa mimpi itu susah, susah dalam arti kita tidak tahu tujuan akhir kita apa. Dicerita ini, karena tujuan mereka sudah jelas, setiap keringat dan darah mereka ya adalah untuk cita-cita itu. Saya jadi berpikir, mungkin mimpi (atau cita-cita) adalah satu dari banyak hal yang membuat hidup menjadi lebih sederhana.

Buku ketiga, Edensor, adalah buku yang paling dekat dengan saya, karena ada beberapa bagian yang menceritakan tentang Belanda dan perasaan-perasaan pertama kali datang ke Belanda, yang menurut saya sangat riil. Buku ketiga juga disajikan lewat petualangan, namun cara penuturannya lebih dewasa dan teratur. Saya sangat menikmati buku ketiga, yang memang sangat berbeda dari buku pertama, dari segi cara bercerita. Kesan yang paling melekat dengan saya dari buku ketiga adalah perasaan yang Andrea Hirata gambarkan tentang perasaan bangga terhadap Indonesia yang tidak pernah saya rasakan saat saya di Indonesia. Di buku ini digambarkan bahwa setiap mendengar kata Indonesia dari mulut orang asing, dan bagaimana indahnya Indonesia (dan Bali terlebih!), dan bagaimana Anggun sangat terkenal di Perancis, perasaan bangga berlebih dan senyum yang tidak dibuat-buat selalu ada. Dan saya, sebagai seorang yang tinggal di luar negeri, juga sempat merasakan itu apalagi ditahun-tahun pertama saya. Selain itu, buku ini juga bercerita tentang susahnya sekolah dalam bahasa inggris untuk pertama kalinya, terlebih dengan keharusan bersaing dengan orang-orang eropa yang 'sulit'. Jadi kesimpulannya, sepanjang buku ini saya selalu tersenyum dan saya bersyukur bahwa saya tidak hanya bisa membaca pengalaman Andrea Hirata, tapi juga merasakannya itu semua dalam hidup saya.

Andrea Hirata bisa dibilang sebuah sukses besar di dunia literatur Indonesia. Ia adalah satu dari sedikit manusia biasa yang tiba-tiba terlahir sebagai penulis. Dan sebagai a new comer, karyanya bukan hanya satu buku, tapi sebuah tetralogi, yang orang-orang bilang kesukesesannya hampir menyamai tetralogi Pramoedya. Jujur sebelum membaca karya Andrea Hirata, saya tidak punya ide sama sekali tentang siapa dia, dan cerita macam apa yang ia sajikan. Pertama melihat judul dan sampulnya pun, saya merasa kurang tertantang. Satu-satunya alasan saya membaca Laskar Pelangi sama dengan alasan pertama saya membaca Harry Potter jaman smp dulu, penasaran. Namun, seperti saya katakan diatas, saya sangat puas dan penasaran saya terjawab. Saya hanya berharap semua orang membaca tetralogi ini dan mudah-mudahan tetralogi ini dapat merubah pandangan Indonesia terhadap pendidikan, khususnya para orang tua dan dunia muda tentang keharusan mengenyam pendidikan.

PS: 1. Film Laskar Pelangi, yang diambil dari buku pertama tetralogi Laskar Pelangi sudah dapat ditonton di bioskop-bioskop di Indonesia sejak 25 September 2008. 2. Buku keempat dari tetralogi ini, Maryamah Karpov, akan terbit akhir tahun ini.

:)

1 comment:

Anonymous said...

gw suka dgn gaya penulisan lo yang ini tin.. bagus.
pas rasanya buat sebuah review.
juga pas rasanya buat dicampur dgn printilan pengalaman hidup.

ayo tulis yang lain.
tentunya dengan BAHASA KESATUAN NKRI ya!!!